MANCING

Oleh: Achmad Faisal, S.Psi

“Sambil menyelam minum susu”., “Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui”, mungkin pribahasa yang cocok untuk menggambarkan tentang aktivitas mancing, khususnya bagi pemancing musiman, selingan atau yang bukan sebagai mata pencaharian utamanya.

mancing

Suasana Mancing, Pesta ikan Hapau diatas kapal Kayu dari Kurau, Bangka Tengah, Maret 2016. Peserta dari Badiklat Babel dan dari Pemkot Pangkalpinang

Banyak hal yang mendorong orang (motivasi) beraktivitas memancing diantaranya:

  1. Hajat hidup, mata pencaharian utama
  2. Mengisi dan memanfaatkan kekosongan waktu
  3. Peralihan kegiatan dari rutinitas
  4. Refreshing menyehatkan mental
  5. Olah raga menyehatkan fisik
  6. Orientasi pada kuantitas hasil
  7. Orientasi pada kualitas Hasil pancingan yang segar, bebas formalin
  8. Pengalihan atau peralihan diri (mekanisme pertahan diri)
  9. Sensasi,
  10. Coba-coba/ikut-ikutan, dan sebagainya.

Aktivitas mancing itu, yang disadari atau yang tidak disadari, langsung atau tidak langsung, dengan satu atau lebih dari satu tujuan dan manfaat yang diperoleh.

Sekilas, berbagai motivasi mancing tersebut bernilai positif, terutama bagi kesehatan mental individu, yang tentu saja berkorelasi terhadap eksistensi, aktualisasi dan kinerja seseorang.  Selain itu, bias dari aktivitas memancing juga dapat menumbuhkan kesadaran dan kecintaan pada alam lingkungan, serta dapat mempererat persatuan dan kesatuan bangsa. Karena biasanya kegiatan memancing dapat membaurkan antar pemancing, meski beda latar belakang motivasi, usia, status, sosial ekonomi, agama, ras, suku dan lain-lain. Bahkan seringkali komunikasi terjadi antar pemancing, khususnya mancing dilokasi dari daratan, meski tidak kenal, dengan sapaan pertanyaan: “ada/sudah dapatkah ikannnya?”

Namun demikian, aktivitas mancing, khususnya bagi non nelayan, relatif dapat bernilai negatif, bila:

  1. Bagi pegawai pemerintahan ataupun swasta sampai berpengaruh negatif terhadap kinerja seperti bolos kerja, mengantuk lemes dikantor dan sebagainya.
  2. Faktor manajemen yang kurang baik dari segi waktu, kesehatan, aspek keselamatan dan sebagainya.
  3. Meninggalkan kewajiban beragama, terutama sholat bagi yang beragama islam, disebabkan keasyikan mancing atau merasa badan dan pakaian kotor, bau anyir, malu disebut alim, dan sebagainya.
  4. “Mancing di Air Keruh.”, dalam makna konotasi. Yakni Maksud dan Tujuan tertentu yang memang negatif sedari awal.
  5. Pengeluaran relatif jauh lebih besar dibandingkan dengan yang diperoleh. Biaya konsumsi, transportasi, umpan, sewa kapal, dan sarana prasarana pendukung lainnya. Terlebih lagi bila dengan alat-alat pancing modern yang harganya dari yang ekonomis sampai dengan premium, dari ratusan ribu atau belasan, puluhan, ratusan juta, bahkan sampai milyaran rupiah. Dari yang manual ala koboi sampai dengan peralatan yang lengkap, berikut kapal dan sebagainya.

Umpan Buatan/imitasi

Aktivitas mancing berdasarkan Jenis Lokasi dan Jenis Air dapat dilakukan di sungai berair payau, di sungai, danau, kolam berair tawar, dan di laut tentunya berair asin. berdasarkan alat tangkapnya berupa: pancing, pengumpul (collector), garuk, Pukat, jaring, dan perangkap. Berdasarkan jenis tangkapannya berupa: ikan, udang, kerang-kerangan, kepiting, dll. Bersyukur kepada Allooh karena Bangka Belitung dikarunia tempat dan sumber daya tangkapan yang berlimpah ruah.

Udang Satang Sungai Limbung/Jada, Bangka  2006.

Patin Laut, dipancing dari bibir Pantai Nadi Lubuk, Desember 2016

Bagi pemancing musiman atau selingan, mancing hanya sekedar mancing. Datang dan berlalu begitu saja. Bagi sebagian lain yang lebih kreatif, dan dengan manajemen yang lebih baik, mancing bisa menjadi sesuatu yang lebih bernilai. Misal hasil dapat dijual dan mendatangkan pemasukan. Selain itu, aktivitas mancing dapat didokumentasikan, diekspos dimedia cetak, seperti Koran, buku atau media online, seperti di youtube, sebagai aktualisasi dan dapat mendatangkan pemasukan tersendiri.

Kegiatan mancing merupakan fenomena tersendiri yang sudah ada sedari jaman dahulu sampai sekarang bahkan masa-masa yang akan datang. Positif-negatifnya aktivitas mancing, dengan aspek proses dan hasilnya, tergantung pada niat, manajemen serta pola pikir, dan sikap serta perilaku setiap individu pemancing.

Idealnya, kegiatan mancing, sebagaimana pepatah sunda: “Lauk na’ menang, caik na’ herang (ikannya dapat, airnya bening/tidak keruh)., yang dapat dimaknai sebagai maksud dan tujuan aktivitas mancing tercapai tanpa menimbulkan efek negatif, atau setidaknya dengan mengeleminir sekecil mungkin dampak negatifnya, bagi diri pribadi, keluarga, masyarakat ataupun organisasi, dengan cara insight dan manajemen yang semestinya, meski dalam bentuk yang cukup sederhana saja.

 

Comments