PERAN DAN FUNGSI MENTORING, KONSELING, COACHING  PADA DIKLAT KEPEMIMPINAN

Oleh: Achmad Faisal, S.Psi

Diklatpim Tingkat III dan Diklatpim Tingkat IV Tahun 2016 Kabupaten, Kota dan Provinsi di lingkungan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah selesai dilaksanakan. Berbagai corak warna warni dinamika dalam pelaksanaannya, khususnya dalam kreteria keberhasilan peserta dalam mengikuti Diklatpim tersebut dari kategori sangat memuaskan, memuaskan, cukup memuaskan, kurang memuaskan, tidak memuaskan, atau ada yang kategori tidak lulus, bahkan tidak dapat menyelesaikan diklat.

Keberhasilan peserta menyelesaikan Diklatpim, dengan berbagai predikatnya tersebut, sangat dipengaruhi oleh berbagai aspek atau faktor, salah satu diantaranya yaitu peran dan fungsi mentoring, konseling dan coaching yang dilakukan.

coaching

Coaching Diklatpim Tk. IV Angkatan V kabupaten Bangka Tengah Bekerjasama dengan Badiklat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2016

Urgensi Mentoring, dan Konseling, serta Coaching dalam Diklat Kepemimpinan

Eksistensi, peran dan fungsi mentoring, konseling, dan coaching dalam penyelenggaran Diklatpim Tingkat IV, III, II atau I terdapat dalam Peraturan Kepala LAN RI nomor 17, 18, 19, atau 20 tentang Pedoman Penyelenggaraan Diklatpim Tk. I, II, III atau IV.

Mentoring dan Coaching merupakan suatu kegiatan yang mutlak harus ada, dalam penyelenggaraan suatu Diklatpim. Tanpa proses, persetujuan dan dukungan mentor  dan coach, maka peserta dianggap gagal dalam mengikuti diklatpim tersebut. Misal, ketika seminar rancangan atau seminar laporan proyek perubahan yang tidak dihadiri atau didukung oleh mentor, maka seminar tidak dapat dilaksanakan atau dianggap gagal, mengindikasikan peserta tidak berkompeten dalam aspek Diagnostik Reading, Tim Efektip, Koordinasi dan Kolaborasi dan sebagainya, sehingga peran dan fungsi leadershipnya tidak berjalan, otomatis tidak berkompeten sebagai pemimpin perubahan, sebagai filosopi utama Diklat Kepemimpinan yang dikenal sebagai Pola Baru atau Pemimpin Perubahan.

Berbeda dengan coaching dan mentoring yang mutlak harus ada, dalam Diklat Kepemimpinan, khusus Konseling diberikan kepada peserta yang mengalami permasalahan interpersonal (LAN RI, 2015). Jadi lebih bersifat insidental.

Individu, sebagai peserta Diklatpim, yang sekaligus dalam waktu bersamaan sebagai pelaksana program kegiatan unit kerjanya, juga sebagai manusia biasa, tentu tidak lepas dari persoalan pribadi dan sosialnya yang komplek. Kegiatan mentoring, konseling dan coaching bagi setiap peserta diklatpim merupakan suatu solusi, tidak saja pada masa diklat kepemimpinan yang berlangsung, namun juga dikemudian waktu.

Diklatpim yang dikenal sebagai pola baru atau Diklat Pemimpin Perubahan ini, memang mensinergikan peserta diklat dengan mentor, dan coach serta stakeholder lainnya, dimana peserta diklat berperan langsung sebagai leader proyek perubahan yang dilaksanakan dalam laboratorium proyek perubahannya, bukan semata-mata bekerja sendiri saja.

Peserta Diklatpim, dalam kegiatan mentoring, coaching dan konseling ini berperan sebagai mentee, coachee, atau konselee. Sedangkan widyaiswara tertentu, yang ditugaskan, berperan fungsi selaku Coach, atau juga sebagai konselor (bila dibutuhkan). Khusus untuk mentor diperan fungsikan kepada atasan langsung dari peserta diklatpim tersebut. Apabila tidak ada atasan langsungnya dapat ditugaskan atasan lain dari satuan kerja dimaksud atau yang berkompeten, atau atasan dari atasan langsung peserta yang bersangkutan.

Beberapa Permasalahan Coaching dalam Diklatpim

Berdasarkan observasi, Agus Dwiyanto yang dikutip Dayat dalam slide bahan tayang Diklat Coach (2016) mengatakan Beberapa Permasalahan Coaching dalam Diklatpim:

  • Pemahaman Widyaiswara terhadap fungsi coaching berbeda-beda
  • Sebagian besar Widyaiswara menempatkan dirinya sebagai lebih superior, knowledgable, dsb. daripada peserta Diklat. Hubungan antara coach dengan peserta seperti hubungan antara atasan dengan bawahan (super-coach).
  • Banyak Widyaiswara yang memusatkan perhatian pada hal teknis, seperti pembimbing tesis, dengan mempersoalkan judul, teknis penulisan, wording, dsb.
  • Sebagian Widyaiswara mengabaikan perannya sebagai motivator, sumber inspirasi, dan provokator untuk memberi tantangan kepada peserta untuk mengerahkan semua kemampuannya dalam mengelola inovasi yang diciptakannya.

Berdasarkan observasi penulis, permasalahan terjadi tidak hanya pada Coaching, tapi juga terjadi pada Mentoring dan Konseling. Terutama permasalahan kesalahan persepsi peran dan fungsi mentoring dan konseling yang tidak berjalan sebagaimana mestinya, dimana harapan ditumpukan pada widyaiswara selaku coaching, tumpang tindih peran dan fungsi mentoring, coaching dan konseling, bahkan adakala tidak terlaksana sama sekali.

Permasalahan dalam (ketidak)laksanaan mentoring, coaching, konseling ini dapat berdampak pada kasus yang bersifat ringan, sedang, bahkan berat. Dari persoalan pribadi, atau organisasi yang berakibat pada kebingungan peserta, motivasi yang rendah, konflik jiwa dan organisasi, ketidakmampuan pemberdayaan diri dan lingkungan, dan sebagainya menyebabkan kekurangberhasilan bahkan kegagalan sebagai peserta Diklat Kepemimpinan yang diikuti.

Bagaimana seharusnya?

Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia sebagai Lembaga yang salah satu tugas dan fungsinya membina Diklat Kepemimpinan telah meregulasikan pedoman penyelenggaraan Diklat Kepemimpinan, dengan mentoring, konseling dan coaching sebagai bagian dari komponen di dalamnya.

Tetap berpegang teguh atau kembali kepada “khittah” Penyelenggaraan Diklat Kepemimpinan yang telah ditetapkan oleh LAN RI merupakan suatu keniscayaan bagi suksesi program kegiatan Diklat Kepemimpinan yang diselenggarakan.

Dalam Peraturan Kepala LAN RI nomor 20 Tahun 2015 tentang Pedoman Penyelenggaran Diklatpim Tingkat IV, konseling dan coaching dalam diklat kepemimpinan merupakan kegiatan pembimbingan.

Pembimbingan yang dilakukan selama pelaksanaan Diklatpim Tingkat IV terdiri dan:

  1. Pembimbingan di kelas

1) Deskripsi Singkat

Kegiatan Pembelajaran ini membekali peserta dengan penjelasan tentang metode coaching, mentoring, dan pelaksanaan membangun komitmen bersama antara peserta dengan mentor dan pemangku kepentingan terkait dalam menentukan area proyek perubahan.

2) Hasil Belajar

Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diharapkan mampu melaksanakan tahap membangun komitmen bersama dan Laboratorium Kepemimpinan.

3) Indikator Hasil Belajar

Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta:

  1. a) mampu memahami Tahap Membangun Komitmen bersama dan Laboratorium Kepemimpinan; dan
  2. b) mampu menyusun hasil Tahap Membangun Komitmen Bersama dan Laboratorium Kepemimpinan.

4) Materi Pokok

Materi pokok untuk Kegiatan Pembelajaran ini adalah:

  1. a) metode coaching, mentoring dan konseling dalam Tahap Membangun Komitmen Bersama; dan
  2. b) metode coaching, mentoring dan konseling dalam Tahap Laboratorium Kepemimpinan.

5) Waktu

Alokasi waktu untuk mata Dikiat ini adalah 36 JP.

  1. Pembimbingan di tempat kerja

1) Deskripsi Singkat

Kegiatan Pembelajaran mi peserta menentukan area Proyek Perubahan dan mengimplementasikan Rancangan Proyek Perubahan bersama mentor dan coach melalui pembimbingan.

2) Hasil Belajar

Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diharapkan mampu menentukan area Proyek Perubahan dan mengimplementasikan Rancangan Proyek Perubahan.

3) Indikator Hasil Belajar

Setelah mengikuti pembelajaran mi, peserta:

  1. a) mampu menentukan dan menjelaskan area Proyek Perubahan;
  2. b) mengimplementasikan Rancangan Proyek Perubahan;dan
  3. c) mendokumentasikan hasil Proyek Perubahan.

4) Waktu

Alokasi waktu untuk mata Dikiat mi adalah 7 hari kalender untuk Membangun Komitmen Bersama dan 60 hari kalender untuk Laboratorium Kepemimpinan.

  1. Konseling

1) Deskripsi Singkat

Kegiatan ini diberikan kepada peserta yang mengalami permasalahan interpersonal. Peserta akan dibekali kemampuan untuk membangun motivasi diri dalam melaksanakan tahap Membangun Komitmen Bersama melalui konsultansi peningkatan motivasi dalam menerapkan tahap tersebut di tempat tugas.

2) Hasil Belajar

Setelah mengikuti kegiatan mi, bagi peserta yang mengalami permasalahan interpersonal diharapkan memiliki motivasi dalam melaksanakan tahap Membangun Komitmen Bersama di tempat kerjanya masing-masing.

3) Indikator Hasil Belajar

Setelah mengikuti kegiatan ini, peserta dapat:

  1. a) memiliki motivasi yang dibutuhkan untuk melaksanakan Tahap Membangun Komitmen Bersama; dan
  2. b) melaksanakan tahap Membangun Komitmen Bersama.

4) Materi Pokok

Materi pokok untuk Kegiatan mi adalah:

  1. a) mengenali menurunnya motivasi diri;
  2. b) mengidentifikasi penyebab menurunnya motivasi;
  3. c) menyusun langkah-langkah pengembangan motivasi;dan
  4. d) menerapkan langkah-langkah pengembangan motivasi.

5) Waktu

Alokasi waktu untuk mata Dikiat mi adalah 7 hari kalender kalender untuk dan 60 hari kalender untuk Laboratorium Kepemimpinan.

Dalam Perka LAN RI tersebut, memang belum dijelaskan secara komprehensif tentang apa, mengapa, bagaimana, siapa, kemana dan lain-lain hal, khususnya tentang persoalan substantif mentoring, konseling dan coaching. Dalam tulisan inipun tidak pula dijabarkan secara spesifik, apalagi secara komprehensif, hal ini dikarenakan luasnya khazanah tentang mentoring, konseling, dan coaching tersebut. Setiap topik memerlukan bahasan ruang waktu yang panjang lebar tersendiri. Sedangkan tulisan ini, dalam ruang dan waktu yang singkat terbatas, namun demikian, setidaknya mencoba menggugah pemikiran dan upaya agar dapat selalu berkesuaian dengan regulasi yang ada, dan dapat menambah pemahaman, dan mengaplikasikannya, khususnya bagi penulis, berhubungan dengan mentoring, konseling, coaching dari berbagai sumber lain yang ada, agar berdaya optimal guna peran dan fungsi dalam mentoring, konseling dan coaching dalam Diklat Kepemimpinan.

Dalam prakteknya, mentoring, konseling, dan coaching selain harus sesuai dengan regulasi yang ada, pengimplementasiannya juga harus sesuai dengan definisi, azaz, teori, prinsip, proses, sifat, maksud dan tujuan dari mentoring, konseling dan coach tersebut dari perspektif  ilmu pengetahuan yang ada.

Dengan melaksanakan regulasi, peraturan, perundangan tentang penyelenggaran diklatpim yang telah ditetapkan Lembaga Administarsi Negara RI, secara menyeluruh dan konsisten, serta dengan memahami dan mengaplikasikan substansi mentoring, konseling dan coaching sebagaimana mestinya, pada akhirnya dapat menjadi daya ungkit peningkatan mutu diklat kepemimpinan yang diselenggarakan.

Implementasi dan sinergitas sebagaimana mestinya antara penyelenggara, widyaiswara, peserta, stakeholders melalui kegiatan mentoring, coaching, dan konseling merupakan salah satu kunci utama suksesnya penyelenggaraan diklatpim, dengan indikator tingkat kelulusan peserta Diklatpim yang optimal.

DAFTAR REFERENSI

  • Dayat NS Wiranta. 2016. Teknik (Dasar) Coaching. Slide Bahan Tayang. Bandung; LAN RI
  • Esty, Sri Wuryani Djiwandono. 2005. Konseling dan Terapi. Jakarta; PT. Grasindo
  • Kelly, D Clarence. 2008. Mentoring For Manager. Jakarta; Prestasi Pustakaraya
  • LAN RI. 2007. Konseling Orang Dewasa. Jakarta; LAN RI
  • LAN RI. 2015. Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 20 Tahun 2015 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Diklatpim Tk. IV
  • Pratiwi, Nur Noviati dan Sri Hartati. 2009. Konseling Sebagai Upaya Meningkatkan Kepemimpinan Transfomasional. Jurnal Intervensi Psikologi. Yogjakarta; UII
  • Tidjan, Dkk. 2000. Bimbingan dan Konseling. Yogjakarta; Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogjakarta.

 

Comments