CITA-CITA DAN KHAYALAN

Oleh: Achmad Faisal, S.Psi

Adalah sama antara cita-cita dengan khayalan, yakni keinginan. Bedanya cita-cita  adalah keinginan yang diupayakan terwujud atau tercapai. Sedangkan khayalan adalah keinginan yang tidak diupayakan untuk diwujudkan, hanya ditataran olah mental akal pikiran saja (imajinasi).

Setiap kita, selaku memiliki kebutuhan dan keinginan, baik yang bersifat primer, sekunder atau tersier. Kebutuhan primer adalah kebutuhan utama yang harus dipenuhi untuk mempertahankan kelangsungan hidup manusia secara wajar atau layak. Contoh sandang pangan papan, kesehatan, keamanan dll. Kebutuhan sekunder adalah kebutuhan yang sifatnya melengkapi kebutuhan primer dan kebutuhan ini baru terpenuhi setelah kebutuhan primer terpenuhi. Contoh TV, Kulkas dll. Kebuthan tersier adalah kebutuhan yang timbul setelah kebutuhan primer dan sekunder terpenuhi. Biasanya bersifat kemewahan (Simplenews05.blogspot.co.id/2014). Kebutuhan atau keinginan ini akan selalu ada manusia sejak lahir sampai akhir hidupnya.

Tingkatannya kebutuhan tersebut dapat digambarkan dalam hierarki kebutuhan dibawah ini:

cita dan khayal

Hierarki kebutuhan Abraham Maslow. Sumber Http://www.google.com

Kebutuhan diatas bersifat dinamisas bagi setiap pribadi. Artinya bahwa setiap orang sebagai pribadi yang unik, berbeda-beda, tak ada yang sama persis, dalam pemenuhan kebutuhannya tidak selalu dalam urutan tingkatan atau hierarki dua teori tersebut diatas. Eksistensi dan pemenuhan kebutuhannya dapat tumpah tindih, dan berdampak berbeda-beda pula bagi individu dalam hal besar-kecil, ringan-beratnya sesuai insight dan konsep diri serta keinginan atau obsesi masing-masing individu.

Penggapaian cita-cita memerlukan manajemen, meski dalam bentuk yang sederhana. Karena penggapaian cita-cita, dengan disadari atau tidak disadari, memerlukan sumberdaya energi pikiran mental, tenaga, waktu, materi, dukungan sosial dan lain sebagainya.

Cita-cita Bagi organisasi, baik swasta atau pemerintah, dengan mencanangkan (merencanakan dan mengesahkan) program kegiatan yang menjadi kebutuhan atau keinginan organisasi. Kebutuhan dan keinginan yang telah deprogram-kegiatankan tersebut merupakan langkah awal dari pencapaian cita-cita. Selanjutnya, Pelaksanaan dan penyelenggaraan program kegiatan yang telah disahkan itu  merupakan langkah nyata pencapaian cita-cita organisasi.

Memang, tidak semua kebutuhan dan keinginan harus dimanjemen dan dipolakan sedemikian itu. Mungkin, Keinginan dan kebutuhan besar dan utama saja yang perlu dimanajemen dan dipolakan sedemikian itu. Mewujudkan cita-cita lebih professional dan proporsional dapat dilakukan dengan cara:

  1. Fahami Esensi dan bidang cita-cita.

Dengan memahami esensi dan substansi cita-cita yang ingin digapai menjadi keharusan agar konsep diri, sikap dan perilaku lebih kuat dan mantap. Cita-cita dalam dipilah menjadi yang bersifat pribadi, keluarga, sosial, spiritual, materi, karir, pendidikan, organisasi dan sebagainya.

  1. Kenali Potensi.

Bila cita-cita bersifat pribadi, pengenalan potensi diri bersifat:

  1. NATURAL :
    • Fisik
    • Psichis
      • IQ
      • EQ
      • SQ
      • Talent
      • Interes
      • Motivasi
      • Kepribadian
      • Kesehatan Mental
  1. ARTIFISIAL (yang sudah terlatih/terbentuk) :
    • Ilmu
    • Pengalaman
    • Budaya
    • Nilai
    • Dll

Bila cita-cita organisasi, pengenalan potensi berupa segala sumberdaya yang ada berikut yang terkait dengan organisasi tersebut.

  1. Tindak lanjut/Pengembangan diri.

Dengan mengenali potensi diri dan atau organisasi, yang bersifat positif ataupun negatip, menjadi peta kekuatan dan kelemahan yang dapat diberdayakan dan dikembangkan dalam rangka pencapaian cita-cita.

  1. Tentukan Limit Waktu

Dengan menetapkan Limit Waktu menjadi motivasi tersendiri dalam upaya pencapaian cita-cita. Kadang, ditetapkan limit waktu saja masih meleset apalagi bila tidak ada batas waktu yang ditentukan.

  1. Berdoa

Menyadari sebagai mahkluk yang berketuhan, dengan segala Kemaha-Pemilikan dan Kemaha-Kuasaan Sang Kholik, memberi makna bahwa tiada daya dan upaya sedikitpun kecuali atas perkenan-Nya. Begitu pula dengan urusan cita-cita. Maka bermohon kepada-Nya adalah hal utama yang tak boleh diabaikan sedikitpun dalam rangka pencapaian cita-cita.

Memang, sama antara cita-cita dan khayalan, yakni keinginan. Pada akhirnya semua terpulang kepada masing-masing orang apakah keinginan tersebut dibiarkan berlalu begitu saja, hanya menjadi sebuah khayalan. Atau kebutuhan dan keinginan tersebut diupayakan pencapaiannya, sebagai sebuah cita-cita. Terlepas dari hasil final yang diraih. Karena persoalan hasil merupakan anugerah Allooh terhadap mahkluk yang ditentukan-Nya tersendiri. Namun yang terpenting dalam hidup adalah niat dan usaha sebagai bagian dari cita-cita. Niat dan usaha saja sudah mendapat penilaian khusus dari yang Maha Kuasa. Hasil hendaknya berserah diri sepenuhnya kepada Sang Kholik.

Daftar Referensi

  • Faisal, Achmad. 2016. Bahan Ajar dan Bahan Tayang Pengenalan Potensi Diri Diklatpim Tk. IV
  •   Bahan Ajar dan Bahan Tayang Pengembangan Potensi Diri Diklatpim Tk. III
  • Http://www.google.com. diunduh tanggal 23 Desember 2016
  • blogspot.co.id/2014/pengertian-dan-kebutuhan-primer.html. diunduh tanggal 23 Desember 2016

Comments